Eks Wakil KPK: Skandal Dugaan Kebohongan Makin Benderang, Dimana Dewas KPK

Bagikan Artikel ini ke :
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Jakarta | harianperistiwa.comMantan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, menilai ada indikasi dugaan skandal kebohongan pimpinan KPK, terkait pengembalian kompol Rossa, penyidik KPK ke Polri.

Menurut Bambang, hal tersebut tak bisa lagi dilihat dari perspektif sempit sebagai problem manajemen belaka tapi ada isu conflict of interest yang diduga dilakukan Ketua KPK Firli Bahuri,” kata Bambang, melalui pernyataan tertulisnya, di Jakarta, Sabtu (8/2/2020).

Hal tersebut  dapat  menjadi justifikasi   atas    sinyalemen skandal kebohongan,” ujarnya.

Baca Juga  Demokrat Dorong KPK Temukan HM, Ketua KPK: Sedang Kita Cari

Baca Juga  ICW Minta Pimpinan KPK Hentikan Penggusuran Pegawai Berintegritas di KPK

Padahal, lanjutnya conflict of interest adalah salah satu akar dan sumber korupsi.

Tim Lankester, Univercity of Oxford, July 2007 menyatakan “… conflict of interest is at the root of the abuse of power …” (Conflict of Interest: A Historical and Comparative Perspective). Lebih jauh dikemukakan “…Conflicts of interest increase the risk of bias and poor judgment …” Collusion, Conflict of Interest and Corruption (Jonathan T. Marks, CPA, CFF, CFE, Dec. 24, 2018).

Ada black hole yang menjadi aroma sangit “kebusukan” tapi dapat jadi pintu masuk untuk “menggeledah” kebenaran skandal pembohongan  yang berbasis pada conflict of interest bila mengaitkan Pengaduan Wadah Pegawai (WP) KPK dengan 2 buah Surat dari Polri tentang Pembatalan Penarikan Penugasan dan Surat KPK mengenai Pengembalian Rossa.

Menurutnya,  ada pertanyaan dasar yang harus dijawab, siapa yang paling punya kepentingan untuk mengembalikan Kompol Rossa? Dan siapa di KPK yang kepentingannya paling terganggu?

Di satu sisi, Kompol Rossa adalah salah satu Penyidik senior KPK yang terlibat atas keberhasilan OTT KPK sehingga berhasil menjerat Komsioner KPU dalam kasus penyuapan yang diduga dilakukan oleh calon Legislatif dari PDI Perjuangan dan diduga melibatkan Hasto, Sekjen Partai PDI Perjuangan.

Secara akal sehat, seharusnya tidak ada kepentingan dari Lembaga KPK untuk “menghukum” Rossa atas prestasinya itu.

Baca Juga  Polisi Terus Kejar Harun Masiku, Argo: Mudah- Mudahan Segera Tertangkap

Baca Juga  ICW Desak KPK Bongkar Tuntas Keterlibatan Seluruh Aktor

Institusi Polri secara kelembagaan melakukan tindakan extra ordinary melalui 2 (dua) buah suratnya yang membatalkan penarikan penugasan Rossa dan juga jawaban Polri agar Rossa tetap melaksanakan tugas di KPK karena penugasan belum selesai (Surat No R/21/1/KEP/2020, 21 Jan. 2020 dan Surat No. R/172/1/KEP.2020, 29 Jan. 2020).

Kedua surat luar biasa itu menegaskan adanya alasan moral dan standar akuntabilitas yang hendak ditinggikan dan ditegakkan oleh institusi Polri.

Alasan pemulangan Rossa yang selalu dikemukakan oleh Firli Bahuri, Ketua KPK dan komisioner Alexander Marwata karena adanya penarikan dari institusi Polri.

Bukankah kepentingan ini potensial bertentangan dengan kepentingan kelembagaan KPK dan dua surat dari Polri di atas.

Bahkan, kedua Pimpinan KPK tersebut tidak berani secara tegas menyatakan adanya kedua buah surat (pembatalan penarikan dan tetap melaksanakan tugas di KPK) dari institusi Polri tersebut.

Menurut mantan wakil KPK itu, mengapa hal dimaksud disembunyikan, apa dasar ketakutannya, apa kepentingan yang sedang bekerja dan apa relasinya dengan kepentingan kedua Komisioner KPK itu?

Uraian di atas dapat menjadi petunjuk yang memberi indikasi kuat adanya SKANDAL KEBOHONGAN sebagai suatu fakta yang tak dapat diingkari lagi, terlalu jelas dan tegas, serta berpijak pada indikasi terjadinya conflict of interest yang merupakan salah satu akar korupsi.

QUO VADIS Dewas KPK? Semoga bisa hadir secara kongkrit dan menunjukan “kewarasan” nuraninya dan tak percuma “menyandang” nama besar.

Terlalu mahal harganya jika integritas, independensi dan kehormatan lembaga KPK harus dikorbankan! Bukankah kita semua tidak ingin dituduh melakukan “kedunguan” berkali-kali dan meninggikan “kebodohan” terus menerus karena menjual murah integritas, menihilkan akuntabilitas.

By: Indra
Ed: Dv

Comments Facebook
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cuci tangan, jaga jarak ,pakai masker, stay at home,dan jauhi keramaian..Stay Alive and Alert

X