Mohammad Hekal Kembali Terpilih Sebagai Dewan Perwakilan Rakyat

Bagikan Artikel ini ke :
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

INFORMASI PRIBADI

Nama: Mohammad Hekal

Tempat Lahir

Jakarta Tanggal Lahir ,23/12/1976

Alamat Rumah

Jalan Sriwijaya Raya No. 12 A Rt. 003 Rw. 001 Kelurahan Selong, Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta

Partai Politik: 

Gerindra – Jawa Tengah IX

Komisi VI – Perdagangan, Perindustrian, Investasi, Koperasi, UKM & BUMN, Standarisasi Nasional

PENDIDIKAN:

S1, Maryland University, Roberth Smith School of Business, Amerika Serikat

PERJALANAN POLITIK: 

Mohamad Hekal belum pernah memiliki rekam jejak politik diluar keanggotaannya di Gerindra. Hekal tercatat sebagai komisaris utama PT Sitasa Timber dan PT Sitasa Energi.

PROFIL:

Mohamad Hekal lahir di Jakarta, 23 Desember 1976. Hekal berhasil menjadi Anggota DPR-RI periode 2019 – 2024 dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) untuk Dapil Jawa Tengah IX. 

Mohammad Hekal kembali terpilih menjadi anggota DPR RI Periode 2019-2024

Hekal adalah seorang pengusaha dan memegang jabatan sebagai Komisaris Utama di PT Sitasa Timber (industri kayu) dan PT. Sitasa Energi (pertambangan).

Hekal adalah putra dari mantan Menteri Keuangan era Orde Baru, Fuad Bawazier. Di 2014, Hekal bertugas di Komisi VI yang membidangi perdagangan, perindustrian, investasi, koperasi dan BUMN dan menjadi anggota Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Pelindo II.

Sejak 12 Januari 2016, Muhammad Hekal menggantikan posisi Heri Gunawan sebagai Wakil Ketua Komisi VI. Menurut Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua Fraksi Gerindra, Rotasi dilakukan oleh Fraksi Gerindra dengan tujuan untuk penyegaran.

Baca Juga  Fadli Zon: Petahana Tunjukkan Tanda-Tanda Akan Kalah

Pada 22 Januari 2018 – Dalam rapat dengar pendapat dengan Deputi Kementerian BUMN, Dirut Waskita, Dirut Hutama Karya, Dirut PP Perseor, Dirut Adhi Karya, Dirut WIjaya Karya, dan Jasa Marga, Hekal menyorot angka yang begitu besar yakni non interest bearing loansehingga ingin tahu sebenarnya uang siapa dan dari mana hingga mencapai Rp20-30 Triliun. Menanggapi jawaban mitra bahwa secara umum angka tersebut unaccountable, Hekal menghubungkannya dengan kesulitan membayar karena angkanya mencapai  Rp30 triliun kemudian menyimpulkan bahwa angka tersebut diperoleh dari subsidi oleh pihak swasta. Ia menyampaikan bahwa salah satu program partai penguasa yakni pembangunan infrastruktur yang kita semua tahu dana APBN-nya terbatas. Ia kemudian meminta kepada partai penguasa jangan terlalu banyak akrobatik karena sudah semakin luar biasa akrobatiknya maka resiko kecelakaannya semakin tinggi. Akrobatik bentuknya ada banyak salah satunya ada asset backed securitiesIa meminta data berapa jumlah aset yang telah tergadaikan dan data tersebut disajikan oleh seluruh BUMN yang terlibat dalam proyek infrastruktur karena kita semua tahu dana APBN tidak dapat menopang sehingga BUMN-BUMN diminta unutk menaikkan life average laverageyang dipandang oleh pihak luar ini sudah sampai pada titik yang membahayakan untuk itu Hekal meminta Deputi BUMN menggerakkan jajaran-jajarannya untuk mencari tahu benarkah sudah pada titik yang membahayakan atau tidak. Karena setelah asset backed securitestidak sanggup, utang-utang kepada bank-bank tidak sanggup, akhirnya muncul wacana untuk menjual anak-anak perusahaan dan tol.

Baca Juga  Dr. H. Ahmad Doli Kurnia Tandjung, S.SI.,M.T. Lolos Ke Senayan

Hekal ingin tahu berapa tol yang ingin dijual termasuk tol Jasa Marga, dan tolnya Pak Chalid mau dijual padahal dibangun saja belum baru dibeli tapi sudah mau dijual. Selain itu menurutnya asset backed securitieskan gadai jadi ada resiko kehilangan. Ia menyatkan bahwa semua ingin BUMN tetap bertahan dari pemerintah ke pemerintahan-pemerintahan berikutnya. Hekal menambahkan bahwa list profiledengan laveragedari data acquity-nya 3,4 sedangkan klausul dari perbankan 3 sehingga sudah jadi poin akrobatik yang melampaui wilayah berbahaya. Selan itu Ia berpandangan setelah tidak tanggung menanggung berutang, akhirnya muncul wacana untuk menjual tol-tol sehingga akrobatik tersebut membuat risau. Khusus terhadap BUMN-BUMN dari yang sudah disampaikan dirut karya  tidak seluruh omset mereka berasal dari proyek pemerintah. Kini banyak BUMN-BUMN yang membangun perusahaan realty. Hekal kemudian menyorot Hutama Karya Realty pada 2017 mengalami penurunan tajam. Untuk itu Hekal kemudian mempertanyakan mulai kapan terjadinya perubahan BUMN ini dari kontraktor menjadi pemegang proyek dan seperti apa pola ini akankan diteruskan atau seperti apa BUMN akan membina. Beliau kemudian meminta penjelasan atas penyebab robohnya beberapa proyek dalam kurun waktu 1 tahun terakhir. Hekal menduga harus adanya atensi khusus dari direksi perusahaan karya untuk proyek-proyek tersebut agar jangan sampai ada anggota keluarga kita yang sedang melintas lalu terkena. Berhubung dapilnya adalah Tegal Brebes sehingga Ia yang sering melintas di Tol CIkampek meminta penjelasan Bu Desi (jajaran KemenBUMN-red) apa upaya untuk mengatasi kemacetan selama 3-4 jam di sana dan petugas yang sigap membaca apakah ada pengguna jalan tol yang mungkin saja sepertinya yakni lupa membawa kartu tol. Mengenai apa yang disampaikan Nsaril Bahar siapakah penguasa rest area-rest area di jalan tol karena pernah ada kawan Jasa Marga yang merasa terdzalimi oleh orang-orang pengelola rest area sehingga Hekal menanyakan apakah benar ada pengusaha yang bu desi saja takut menghadapinya yang konon dapat bermain dengan pemda, BPN, bahkan Jasa Marga itu sendiri. 

Baca Juga  Bawaslu Respon Laporan Dugaan Kecurangan Pileg Di Cirebon Untuk di Tindak Lanjut

Penulis : Indra

Editor : Agus N

Comments Facebook
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *