Tim Advokasi Novel: Ungkap Oknum Jendral Yang Terlibat Dalam Kasus Novel

Bagikan Artikel ini ke :
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

JAKARTA | harianperistiwa.com – Atas ditangkap atau menyerahkan dirinya pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan masih menimbulkan pertanyaan dari sejumlah pihak.

Berkaitan hal tersebut, Kurnia Ramadhana Tim Advokasi Novel Baswedan memberikan pernyataan sikap yakni:

Dugaan adanya keterlibatan kepolisian dalam kasus ini telah terbukti.

Kurnia meyakini, sejak awal jejak-jejak keterlibatan anggota Polri dalam kasus ini sangat jelas, salah satunya adalah penggunaan sepeda motor anggota kepolisian.

Oleh karna itu ia meminta agar Kepolisian harus segera mengungkap jendral dan aktor intelektual lain yang terlibat dalam kasus penyiraman dan tidak berhenti pada pelaku lapangan.

Menurutnya, hasil Tim Gabungan Bentukan Polri dalam temuannya menyatakan, serangan kepada Novel berhubungan dengan pekerjaannya sebagai penyidik KPK.

KPK menangani kasus-kasus besar, sesuai UU KPK, sehingga tidak mungkin pelaku hanya berhenti di 2 orang ini,” kata Kurnia dalam siaran Persnya, yang diterima harianperistiwa, di Jakarta, Jumat (27/12).

“Oleh karena itu perlu penyidikan lebih lanjut hubungan 2 orang yang saat ini ditangkap dengan kasus yang ditangani Novel/KPK,” ujarnya.

Selain itu, Kepolisian harus mengungkap motif pelaku tiba-tiba menyerahkan diri, apabila benar bukan ditangkap. Dan juga harus dipastikan bahwa yang bersangkutan bukanlah orang yang “pasang badan” untuk menutupi pelaku yang perannya lebih besar.

Oleh karena itu, Polri harus membuktikan pengakuan yang bersangkutan bersesuaian dengan keterangan saksi-saksi kunci di lapangan. Hal ini diperlukan karena terdapat kejanggalan-kejanggalan sebagai berikut:

Adanya SP2HP tertanggal 23 Desember 2019 yang menyatakan pelakunya belum diketahui.

Perbedaan berita yaitu kedua polisi tersebut menyerahkan diri atau ditangkap.

Temuan polisi seolah-olah baru sama sekali. Misal apakah orang yang menyerahkan diri mirip dengan sketsa-sketsa wajah yang pernah beberapa kali dikeluarkan Polri.

Polri harus menjelaskan keterkaitan antara sketsa wajah yang pernah dirilis dengan tersangka yang baru saja ditetapkan.

Ketidaksinkronan informasi dari Polri yang mengatakan belum diketahuinya tersangka dengan pernyataan Presiden yang mengatakan akan ada tersangka menunjukkan cara kerja Polri yang tidak terbuka dan profesional dalam kasus ini.

Korban, keluarga dan masyarakat berhak atas informasi terlebih kasus ini menyita perhatian publik dan menjadi indikator keamanan pembela HAM dan anti korupsi.

Polisi juga harus mengusut tuntas teror lainnya yang menimpa Pegawai maupun Pimpinan KPK periode sebelumnya (teror bom di rumah Agus Rahardjo dan Laode M Syarif)

Kurnia menegaskan, Presiden perlu memberikan perhatian khusus atas perkembangan teror yang menimpa Novel. Jika ditemukan kejanggalan maka Presiden harus memberikan sanksi tegas kepada Kapolri.

berita ini masih dalam upaya konfirmasi

By: Indra/Dv

Comments Facebook
loading...
Baca Juga  Effendi S: Pertemuan Jokowi Dengan Bos Freeport Berkali-Kali Dan Terbuka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

ICMI: Konflik Kepentingan Antara Bisnis dan Politik Merusak Demokrasi

Sab Des 28 , 2019
Like Like Love Haha Wow Sad Angry Post Views: 9 JAKARTA | harianperistiwa.com – Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH, mengungkapkan salah satu problem yang kita hadapi sekarang ini adalah feodalisme budaya politik. Menurutnya, selama dua puluh satu tahun reformasi banyak sekali yang harus […]
Call Now Button
X